Ai Takagi (23), wanita yang berbasis di Australia sebagai editor The Real Singapore telah banyak menikmati kepopuleran situs yang mereka kembangkan, kini harus berurusan dengan hukum.
Pihak berwenang Singapura menuduh pasangan itu mencoba untuk menghasut sentimen anti-asing atau promoting racial-hatred.
"Ia secara luas telah dituduh mempromosikan perasaan muak dan permusuhan, meskipun jumlah artikelnya yang telah dipublikasikan tampaknya tak banyak," kata Associate Professor Joseph Fernandez, yang mengajar hukum media di Universitas Curtin dan telah mengikuti kasus Ai.
Ia mengatakan, "Saya membaca sekitar empat artikel di situs itu -dan salah satu yang benar-benar berujung menghancurkan dirinya adalah ketika ia menyebut kelompok etnis tertentu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas beberapa kerusuhan di sebuah festival Hindu."
Ai Takagi kemudian mengaku bersalah atas empat tuduhan termasuk memalsukan beberapa cerita.
Associate Professor Joseph mengatakan, hal yang mengejutkan bahwa Ai tak menyadari dirinya bermain-main di dekat pusaran angin.
"Tak butuh waktu lama untuk seseorang, apakah Anda tinggal di Singapura atau apakah Anda berada di negara tetangga, untuk menyadari bahwa Singapura dan kebebasan berbicara tak benar-benar kompatibel," sebutnya.
IKLAN
Slot Iklan Responsive AdSenseheader-banner
Singapura Beri Hukuman Jurnalis yang Menghasut
admin
•
Dewasa ini media jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Untuk membuat sebuah media pun tidaklah sulit. Cukup dengan modal terjangkau dan memiliki beberapa jurnalis saja sudah dapat mendirikan situs berita online. Namun banyak juga yang kurang memperhatikan mana berita yang pantas dimuat dan mana yang harusnya tidak dikonsumsi kepada publik.
Baru-baru ini salah satu media online dengan alamat situs Therealsingapore.com tidak bisa lagi diakses karena telah disuspend. Hal tersebut berkaitan dengan masalah konten yang dianggap menghasut.
Ai Takagi (23), wanita yang berbasis di Australia sebagai editor The Real Singapore telah banyak menikmati kepopuleran situs yang mereka kembangkan, kini harus berurusan dengan hukum.
Pihak berwenang Singapura menuduh pasangan itu mencoba untuk menghasut sentimen anti-asing atau promoting racial-hatred.
"Ia secara luas telah dituduh mempromosikan perasaan muak dan permusuhan, meskipun jumlah artikelnya yang telah dipublikasikan tampaknya tak banyak," kata Associate Professor Joseph Fernandez, yang mengajar hukum media di Universitas Curtin dan telah mengikuti kasus Ai.
Ia mengatakan, "Saya membaca sekitar empat artikel di situs itu -dan salah satu yang benar-benar berujung menghancurkan dirinya adalah ketika ia menyebut kelompok etnis tertentu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas beberapa kerusuhan di sebuah festival Hindu."
Ai Takagi kemudian mengaku bersalah atas empat tuduhan termasuk memalsukan beberapa cerita.
Associate Professor Joseph mengatakan, hal yang mengejutkan bahwa Ai tak menyadari dirinya bermain-main di dekat pusaran angin.
"Tak butuh waktu lama untuk seseorang, apakah Anda tinggal di Singapura atau apakah Anda berada di negara tetangga, untuk menyadari bahwa Singapura dan kebebasan berbicara tak benar-benar kompatibel," sebutnya.
Ai Takagi (23), wanita yang berbasis di Australia sebagai editor The Real Singapore telah banyak menikmati kepopuleran situs yang mereka kembangkan, kini harus berurusan dengan hukum.
Pihak berwenang Singapura menuduh pasangan itu mencoba untuk menghasut sentimen anti-asing atau promoting racial-hatred.
"Ia secara luas telah dituduh mempromosikan perasaan muak dan permusuhan, meskipun jumlah artikelnya yang telah dipublikasikan tampaknya tak banyak," kata Associate Professor Joseph Fernandez, yang mengajar hukum media di Universitas Curtin dan telah mengikuti kasus Ai.
Ia mengatakan, "Saya membaca sekitar empat artikel di situs itu -dan salah satu yang benar-benar berujung menghancurkan dirinya adalah ketika ia menyebut kelompok etnis tertentu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas beberapa kerusuhan di sebuah festival Hindu."
Ai Takagi kemudian mengaku bersalah atas empat tuduhan termasuk memalsukan beberapa cerita.
Associate Professor Joseph mengatakan, hal yang mengejutkan bahwa Ai tak menyadari dirinya bermain-main di dekat pusaran angin.
"Tak butuh waktu lama untuk seseorang, apakah Anda tinggal di Singapura atau apakah Anda berada di negara tetangga, untuk menyadari bahwa Singapura dan kebebasan berbicara tak benar-benar kompatibel," sebutnya.
IKLAN SPONSOR
Slot Iklan Responsive AdSensein-article
Artikel & Rekomendasi Terkait

artikel
Mengapa Elit Global Menggunakan "Tabu" untuk Menguasai Dunia?

artikel
Death by Bureaucracy: Mengapa Institusi Modern Sedang Membusuk dari Dalam?

artikel
Dari Firaun ke Media Sosial: Anatomi Kendali Pikiran sebagai Senjata Rahasia Penguasa

artikel